Sejak tahun 1942 kita masih dalam jaman pendudukan
Jepang. Jepang dalam Perang Dunia II yang di Asia disebut Perang Asia Timur
Raya, yang dianggap menjadi musuh kita adalah pihak Sekutu yang terdiri dari
negeri ABCD (America Britain China and Dutch).
Penulis pada waktu itu masih kelas 3 Sekolah
Rakyat Sempurna di Banyumas. Banyumas adalah kota distrik yang istimewa, karena
kota ini mantan ibukota karesidenan sejak tahun 1936, mungkin karena kota ini
tidak dilalui kereta-api. Karena dikelilingi gunung-gunung. Gedung-gedung
pemerintahan masih utuh. Di samping itu kota ini adalah kota distrik yang
memiliki banyak dokter di Indonesia pada waktu itu. Pernah pada suatu saat
dihuni 7 orang dokter, seorang diantaranya seorang pensiunan Inspektur dan ahli
malaria internasional dan seorang urolog Indonesia pertama lulusan Austria yang
menjadi Direktur RSU dan beristeri orang bule dari sana. Gurubesar Urolog
Indonesia pertama juga pernah mengikuti pendidikan praktek di RSU
Banyumas. Pada jaman RI 1945-1947
pensiunan Inspektur tersebut diangkat lagi menjadi Lembaga Penyakit Malaria
yang mengungsi dari Jakarta. Kota Banyumas banyak Dokter dan juga kunjungan
Organisasi Kesehatan Internasional, karena gedung-gedung kosong bekas pejabat
dan kantor karesidenan sejak tahun menjadi tempat Proyek Kesehatan Masyarakat
yang endapat bantuan Rockefeler Foundation. Oleh karena itu hampir semua dokter
alumni tahun1940-1942 pernah berdiam selama minimal 2 minggu, seperti ex menlu
Dr.Subandrio dan Prof.Sutejo, pediatrik UI.
Penyerahan Jepang dan Proklamasi RI tidak
diketahui umum sama sekali di daerah, penulis hanya menonton peristiwa yang
aneh, para anggota PETA yang biasanya Sabtu Paing siang (18 Agustus) pulang
kampung tanpa pakaian yang rapi. Orang Belanda, Ny.Roeps, agen susu sapi di
Jalan Pengadilan keluar dari tahanan. Ada dua kali arak-arakan bendera (flag
actie) yang diselenggarakan di Purwokerto atas instruksi KNI Karesidenan yang
melibatkan banyak orang. Yang pertama pada waktu pasca sholat Id di alun-alun,
yang kedua pada waktu pengambil-alihan pemerintahan dari Jepang, dengan
didahului para Bupati pada barisan paling depan dengan pengawalan BKR dan
polisi istimewa bangsa Indonesia, dari alun-alun Purwokerto melalui Rumah
Residen di Sitapen lalu kembali lewat Kebon Dalem. Kemudian para pembesar
Jepang, Residen Iwashige dan kawan-kawannya diasingkan di perumahan bekas
Pabrik Gula Purwokerto, kini bekas Kodim, pertokoan muka Toko Rita. Militer Jepang sudah menyiapkan tempat pengasingannya sendiri di
Jyengan Banyumas, kini batalyon.
Biasanya penulis mendapat berita rahasia
bisik-bisik dari anak-anak tangsi polisi, tetapi hari itu libur puasa.
Proklamasi RI di Jakarta gagal disiarkan radio, mikrofon di tempat Proklamasi
Pegangsaan Timur 56 yang hanya berfungsi sebagai pengeras suara saja. Penduduk
Banyumas yang memiliki radio yang hanya bersuara dengan tenaga listrik dan
berlangganan koran Jakarta, koran Asia Raya tidak banyak. Koran lokal tidak
ada, hanya ada mingguan Warta Banyumas Syuu dari kertas merang, terbit terakhir
hari 18 Agustus. Redakturnya Soedijono, dengan alamat Jalan Pereng 21
Purwokerto. Walaupun tiap hari dapat mendengarkan radio dan membaca koran
Jakarta yang terlambat satu hari, tetapi berita proklamasi tidak dimuat. Berita
yang kita terima sudah disensor ketat pemerintah militer Jepang yang pada waktu
itu disebut Pemerintah Balatentara Dai Nippon di Djawa. Pemerintah menyebut Jepang dengan Dai Nippon, orang tidak berani
menyebut dengan kata Jepang. Siaran gelombang pendek radio di segel, agar kita
tidak dapat mendengarkan siaran radio musuh kita, yaitu Sekutu (ABCD=America
Britain China Dutch). Orang tidak berani menyopot segel, takut ancaman hukuman
yang sangat kejam dari polisi militer Jepang yang disebut Kenpeitai. Pasukan
Jepang pun sangat takut dengan Kenpeitai.
Di Karesidenan Banyumas hanya ada 5 buah Sekolah Rakyat Sempurna (ex
sekolah dasar dengan pelajaran bahasa Belanda), masing-masing sebuah di ibukota
kabupaten. Banyumas adalah kota
distrik, SR Sempurna masih dipertahankan.
Orang menulis angka bulan dengan
bahasa Jepang, yaitu bulan ke 1 atau Itigatu (ejaan sekarang seperti bunyinya:
Ichigatsu), 2 atau Nigatu (Nigatsu), dst; angka tahun harus dengan tahun Jepang
2605 (tahun Showa).
Orang masuk sekolah dan pergi ke kantor, disamakan dengan Negeri
Nippon, yaitu pukul 08.00 waktu Nippon
atau pukul 06.30, jadi kita harus bangun pagi-pagi sekali. Hadiah terakhir Jepang untuk menarik simpati
umat Islam, ialah sejak hari Maulud Kaisar Jepang Tenno Heika, pada hari Jumat
kita bekerja setengah hari. Demikian pula bendera dan lagu kebangsaan mulai boleh dikibarkan atau dinyanyikan pada
tempat-tempat yang diizinkan (sekolah dan kantor), itupun harus disertai
bendera Jepang Hinomaru yang terletak di sebelah kanan, dipandang dari rumah.
Bahan pakaian dan beras tidak dijual
bebas. Para pegawai di kota
mendapat pembagian pakaian drill, hitam atau ungu. Orang menamakan drill hitam:
blek dril (black drill) cemeng. Guru desa mendapat pembagian pakaian dari rami
atau karung, jarang dicuci dan karena rusak belum diganti, kalau tinggal 1
stel, mandi di kali, kemudian telanjang ditepinya sambil menunggu kering,
sebelumnya kutu-kutu pakaian hartus digilas dengan alas batu supaya kutunya
hancur.
Hasil panen padi yang
masih segar dibeli dengan paksa oleh pemerintah, rakyat mendapat jatah beras merah yang apek, penuh
kutu dan penggilingannya belum tuntas, banyak gabah. Orang banyak kekurangan makan, kesehatan
merosot, penyakit kulit, pathek, malaria, tbc, ulcus tropica (luka di kaki
sampai ke daging) merajalela. Kutu rambut di kepala mengelelingi luka-luka
garukan yang selalu bernanah. Obat-obatan sangat kurang, hanya ada salep
belerang, kinine dan pondemporem; alat pembalut dari serat batang pisang yang
dikeringkan. Hampir tiap rumah di kampung belakang rumah gedongan, mesti
terdapat seorang atau lebih yang busung lapar, apalagi di desa-desa, biasanya
dengan diare, kadang-kadang komposisi makanan masih utuh dan karena perut tidak
dapat mencerna tuntas, sering tercecer dijalan-jalan, bau jalanan bukan main,
tiap hari ada orang mati kurus kering di tepi jalan atau pasar. Di bawah pohon
di dalam kota selalu terlihat pemandangan pengemis yang membakar bekicot yang
merajalela di pepohonan pekarangan.
Kendaraan angkutan umum
hanya dokar dan kereta api, semua mobil swasta disita pemerintah militer.
Kereta api swasta SDS Purwokerto-Maos via Patikraja dicopot, diangkut ke
Thailand, termasuk sebagian pegawainya. Sepeda saja dengan ban karet mati, yang
kalau sudah lama mengeluntung.
Dalam koran yang terbit tanggal 15 Agustus, pada
tanggal 14 Agutus 1945 diberitakan bahwa Sukarno-Hatta baru tiba dari Dalat,
tempat kedudukan Panglima Balatentara Selatan (Nanpo Gun) Marsekal
Terauchi yang menguasai palagan Asia Tenggara. Di Indonesia, Balatentara
Selatan memiliki Angkatan Darat (Rikugun) yang Balatentara Wilayah 25 bermarkas
di Singapura, yang di Indonesia wilayahnya meliputi Jawa (Balatentara 16) dan
Sumatra (Balatentara 15). Dan juga Angkatan Laut (Kaigun) di Makassar untuk
wilayah Borneo dan Indonesia Timur. Kepala Staf Balatentara merangkap Kepala
Pemerintah Balatentara. Oleh karena itu PPKI (Panitya Persiapan Kemerdekaan
Indonesia dilantik di Dalat (Vietnam) pada tanggal 11 Agustus, sedangkan BPUPKI
khusus hanya ada di Jawa. Pada waktu penulis mengikuti pendidikan penataran P4,
tanggal pembentukan ini belum diketahui dengan pasti, bahkan para pelaku
sejarah masih memberikan 4 alternatif tanggal, yaitu tanggal 7 (Laboratorium
Pancasila, sebetulnya baru akan dibentuk), 8 (Pringgodigdo), 9 (Bung Karno) dan
12 Agustus (HUT Bung Hatta). Padahal dari artikel
laporan perjalanan Dr.Suharto, dokter pribadi Bung Karno dan thesis Ben
Anderson dari Cornell
University, dapat
disimpulkan tanggal 11 Agustus. Prof.Aoki pada waktu seminar 50 tahun kemerdekaan mengukuhkan tanggal
ini.
Tidak banyak orang yang
mengetahui bahwa selama pendudukan Jepang, Indonesia tidak merupakan suatu
kesatuan pemerintahan militer Jepang
(yang secara resmi disebut Pemerintah Balatentara Dai Nippon), tetapi dibagi
dalam dua pemerintah militer angkatan darat (gunsei) di Jawa (Jakarta) dan
Sumatra (Buktinggi), dan satu pemerintah militer angkatan laut (minsei) di
Borneo dan Indonesia Timur yang berkedudukan di Makasar. Ketiga pemerintah militer itu memiliki pendirian yang berbeda-beda
tentang kemerdekaan, masing-masing memiliki interest sendiri.
Tanggal 18 siang penulis sudah mendengar desas-desus tentang
kemerdekaan dari orang tua setelah pulang kantor, penulis tidak menanyakan dari
mana sumber berita tersebut. Kemungkinan dari pak Camat, R.Purboyo Kolopaking,
putera Bupati Banjarnegara, yang oleh pemerintah dianggap Bupati paling
terkemuka, Sumitro Kolopaking dan yang sebelumnya menjadi anggota BPUPKI. Atau
barangkali dari Kepala Sekretariat BPUPKI/PPKI (wakil) adalah Mr.A.G.
Pringgodigdo, ex Wedana Purwokerto (orang Jawa Timur), lulusan cum laude
Sarjana Hukum dan Indologi di negeri Belanda. Bupati Banjarnegara juga ex
mahasiswa Indolog.
Pada akhir jaman Jepang, Karesidenan Banyumas memiliki birokrat yang
relatif cukup berkwalitas. Semua
bupati walaupun turun-temurun, berpendidikan umum SLTA dan Akademi Pangreh
Praja. Isteri Bupati Banyumas bahkan mahasiswa puteri Fakultas Hukum Indonesia
pertama. Bupati Banyumas yang sudah pensiun adalah Anggota Dewan Rakyat Residen
RI pertama adalah ex pengacara dan perintis kemerdekaan, yang pada jaman
Belanda adalah non kolabolator, seperti Pemimpin gerakan kemerdekaan terkenal
Sukarno-Hatta. Menurut aktivis mahasiswa Sudjatmoko, ex Dubes RI di Amerika
Serikat (menantu Mr.Sudirman Gandasubrata, Mantan Ketua Pengadilan Negeri
Banyumas), para pemimpin pergerakan memilih kolaborasi karena pemerintah
militer Jepang menanjikan kemerdekaan dan memberikan kesempatan kepada para
pemuda memimpin pasukan militer, yang kelak penting bagi persiapan
mempertahankan kemerdekaan kita kelak.
Umumnya orang Indonesia
tidak punya tradisi menulis memoar. Mereka tidak memiliki catatan-catatan atau tidak biasa menulis pengalamannya. Sehingga
sejarah yang dibuat atau dialaminya sulit diteruskan kepada generasi
penerusnya. Kita harus baca tulisan sejarah dari luar negeri untuk menyegarkan
ingatan kita.
Di Banyumas kita agak beruntung, karena tiga orang
Kepala Daerah membuat memoar pada masa revolusi yaitu Residen dan dua Bupati
Banyumas dan Banjarnegara. Artikel kedua bupati
tersebut pernah disalin dalam bahasa Inggeris oleh Indonesia Project
Cornell University,
Ithaca, New
York. Di antara para jenderal yang menulis memoar
adalah Jenderal Surono dan Jenderal Muhono di Jakarta, dan Jenderal Mahlani di
Banjarnegara. Sedangkan kesatuan yang menyusun memoarnya adalah Mahasiswa
Prapatan 11 Jakarta yang dipimpin mahasiswa dari Purwokerto, Tentara Pelajar
Kompi Encung dan Pasukan Pelajar IMAM (Indonesia Merdeka atau Mati) dan Riwayat
Korem yang tidak lengkap.
Banyak dikisahkan orang bahwa manajemen pengambilalihan Pemerintah
RI Daerah Banyumas dari Pemerintah Balatentara Dai Nippon, dan pengambil-alihan
senjata, adalah yang paling berhasil. Banyumas adalah satu-satunya daerah di Indonesia yang
para kepala daerah (pangreh praja), residen dan para bupati (kecuali Cilacap
oleh Patih) dipilih menjadi ketua KNI setempat, jadi ex officio adalah Ketua
Komite Nasional. Di samping itu para pemimpin BKR adalah orang-orang yang loyal
dan berdisiplin tinggi terhadap supremasi pemerintah sipil, yang melaksanakan
revolusi sesuai instruksi dari pusat. Sampai kini instruksi tersebut tidak banyak diketahui arsipnya, karena
hilang pada masa revolusi. Kisah yang sebenarnya masih jarang ditulis,
sedangkan kebanyakan memoar atau kisah-kisah ditulis para pelaku yang sudah
uzur usia, sudah mengalami erosi memori. Menurut metodologi sejarah, data para
pelaku sejarah kurang akurat lagi sebagai fakta sejarah. wajar dan manusiawi
dalam penulisan sejarah.
WARISAN JEPANG
Menurut berita negara Kan
Poo di Jawa, semua Fuku Shuchokan (wakil atau pembantu residen), sebetulnya
sejak tanggal 4 Agustus 2605 (1945) sudah diangkat menjadi Shu Naiseibucho
(kepala bagian pemerintahan karesidenan), termasuk jabatan struktural.. Iskak
sendiri dalam memoirnya sudah lupa bahwa ia bukan lagi Fuku Suchokan.
Pada akhir pendudukan
Jepang, Pemerintah Balatentara Dai Nippon di Banyumas Shu (Karesidenan
Banyumas), kita mewarisi pemerintah daerah dan calon-modal tentara nasional
seperti di bawah ini.
Struktur
personalia para kepala daerah sampai distrik:
Residen Iwasige
Riuji
Naiseibucho Mr.R.Iskak
Cokrohadisuryo
I. Kabuapten Banyumas
Bupati R.A.A.Sujiman
Mertadireja Gandasubrata
Patih R.Moh.Kabul
Purwodirejo
1. Wedana
Purwokerto R. Sadono
2. Wedana
Banyumas R.Suparto
Purwodiharjo
3. Wedana
Sumpyuh R.Adenan
4. Wedana
Jatilawang M.Prayitno
Partodijoyo
6. Wedana
Ajibarang R.Slamet
Tirtosubroto
II. Kabupaten Purbalingga
Bupati R.A.A.Sugondho
Patih R.Jen
Martohadiatmojo,B.Sch.
1. Wedana
Purbalingga R.Siswadi
Joyosurono
2. Wedana
Bukateja R.Sukarno
3. Wedana
Bobotsari Sentot
Wongsoatmojo
III. Kabupaten Cilacap
Bupati R.M.A.A.Cokrosiwoyo
Patih Cilacap M.Kadri
1. Wedana
Cilacap M.Suyoto
Sastrowardoyo
2. Wedana Kroya M.Sumarno
Kocosukarto
3. Wedana
Sidareja R.M.Kartono
Atmokartono
4. Wedana
Majenang M.Supono
Sosrosupono
IV. Kabupaten Banjarnegara
Bupati R.A.A.Sumitro
Kolopaking Purbonegoro
Patih R.Danusumarto
1. Wedana
Banjarnegara R.Rakiwan
Ronoatmodjo
2. Wedana
Wonodadi M.Sumartoyo
3. Wedana
Karangkobar M.Sutejo
4. Wedana Batur R.M.Suryadi
6. Wedana
Purworejo R.M.Cokroatmojo
Pasukan PETA Karesidenan Banyumas
Pemerintah Balatentara Dai Nippon di Jawa telah membangun pasukan
pribumi yang disebut pembantu prajurit Heiho, satu peleton tiap kompi angkatan
darat (Rikugun), dan satuan pembela tanah air (PETA) di Jawa dan Bali, yang
fungsi utamanya sebagai pasukan pembantu penjaga pantai. Jepang telah
memprediksi serangan balasan akan datang dari Australia, karena itu dibentuk
batalyon PETA (daidan) yang berjumlah 4 daidan dalam tiap karesidenan di pantai
selatan Jawa, dan 2 daidan di pantai utara Jawa, kecuali Surabaya 5 daidan dan
Madura 5 daidan.
Di Karesidenan Banyumas kita mewarisi dari Jepang,
4 Daidan PETA, 2 Daidan dari angkatan I dan 2 Daidan dari angkatan II.
Seluruhnya di Jawa, Madura dan Bali terdapat 66 daidan (batalyon).
Para opsir Peta Angkatan I, dilantik masal
di Jakarta 8 Februari 1944, di Karesidenan Banyumas membentuk:
1. Daidan PETA Karesidenan Banyumas I (Boei Gyugun Banyumas Shu Dai Ichi
Daidan) di Cilacap yang dipimpin Daidancho R.Sutirto dan Eisei Daidancho
(Daidancho Opsir Kesehatan) Dr.Rajiwan, bermarkas di Sekolah Katolik, muka
setasiun Cilacap.
Ex Daidancho Sutirto
terakhir adalah PNS Kepala Bagian Perintah Kementerian Pertahanan di Yogyakarta
1948, dan kelak menjadi Dosen IKIP Semarang, mantan dan wafat di
Banjarnegara.
Kini Dr.Rajiwan, mantan Kepala Inspeksi Kesehatan
Jawa Tengah di Semarang putera Carik Kedunggede Banyumas (belakang RSUD) masih
hidup menduda dalam usia 90 tahun, di sebuah perkebunan pribadi menjelang kota
Banyuwangi.
Daidan (Batalyon) I mempunyai Kepala Staf (Honbu Shodancho) dan 4 Chudan (Kompi) yang
dipimpin Chudancho (Kapten):
2.
Daidan PETA Karesidenan Banyumas II di Sumpyuh yang dipimpin R.M.Susalit
Joyoadiningrat, putera tunggal R.Ajeng Kartini, semula bermarkas di Jayengan
Banyumas (kini markas batalyon TNI), setelah dibentuk daidan PETA angkatan II
bermarkas di Giritomo, bekas Pabrik Gula Sumpyuh.
Daidancho Susalit terakhir adalah Panglima Divisi III TNI di
Magelang 1948, mantan dan wafat di Jakarta. Eisei Daidancho adalah
Dr.Supratignyo, terakhir Letkol,
Inspektur Kesehatan TNI Jawa pada waktu
gerilya di daerah Klaten.
Pada perayaan 17 Agustus 2004 di
Purwokerto ini, di antara ex opsir PETA Daidan II masih dapat hadir seorang ex
Shodancho, Mayjen TNI Purn R.Hardoyo, mantan Kepala Dewan Kekaryaan ABRI &
Anggota DPR RI, putera almarhum R.Sumedi, mantan Mantri Guru di Kranji
Purwokerto. Di desa Pandak Baturaden masih ada seorang lagi tergeletak ex Shodancho R.Sutrisno, Daidan II, putera
seorang Kepala Inspeksi Penilik SR Kabupaten Tegal yang pensiun di Jagalan
Purwokerto.
Para opsir Peta Angkatan
II, dilantik masal di Jakarta 10 Desember 1944, di Karesidenan Banyumas
membentuk:
3. Daidan PETA Karesidenan Banyumas III
di Kroya, bermarkas di bekas gedung Sekolah Rakyat Desa Tegal di sebelah
selatan Kroya, dipimpin Daidancho R.Sudirman, bekas anggota Dewan Pertimbangan
Pemerintah Daerah Karesidenan Banyumas (Banyumas Shu Sangikai), terakhir
menjabat Panglima Besar TNI berpangkat Letjen TNI, sampai almarhum wafat tahun
1950, secara anumerta naik pangkat Jenderal TNI, pada masa Orde Baru bersama
Jen TNI Purn Suharto dan Nasution, naik pangkat anumerta Jenderal Besar
TNI.
Eisei Daidancho adalah Dr.R.M.Sumalyo, terakhir mantan Dokter
Karesidenan Banyumas di Purwokerto (pertelon sebelah barat Sekolah Bruderan),
mantan dan wafat di tempat asal di Magelang. Dr.Sumalyo yang menyaksikan
gugurnya Letkol Isdiman di RSU Magelang, tanggal 29 November 1945.
4. Daidan PETA Karesidenan Banyumas IV di Jayengan Banyumas,
di bawah pimpinan mula-mula oleh Daidancho R.Moh.Isdiman Suryokusumo, tanggal 1
Juni 1945 digantikan oleh Daidancho Gatot Subroto, dengan jabatan terakhir
Kasad, wafat dan di Jakarta, putera
Mantri Guru Sayid, di Jalan Kesatrian Banyumas.
Menurut suratkabar Asia Raya, Daidancho Gatot Subroto adalah
Daidancho Angkatan V ex Chudancho yang naik pangkat, seangkatan Bambang Sugeng
Daidancho Kedu I di Gombong, Sutrisno Sudomo Daidancho Semarang I di Mrican,
Drg.Mustopo Daidancho Surabaya IV di Gresik, Sudirman, Daidancho Bojonegoro I
di Babat dan dua orang lagi yang tidak meneruskan karier militernya.
Eisei Daidancho adalah Dr.Syahbudin Latif, orang Sumatera, terakhir
Dokter Spesialis THT di Jalan Lombok Surabaya. Rumah dinasnya pada waktu itu disebelah
utara Kejaksaan Negeri Banyumas sekarang.
Garis Komando Tentara Jepang
Jepang memang tidak gegabah, pasukan PETA ternyata
tidak memiliki garis komando tersendiri, sehingga mencegah peluang kesatuan
komando dari daidan-daidan Peta melakukan
pemberontakan. Melalui para pelatih Jepang (shidokan) masing-masing
daidan disubordinasikan kepada sebuah Daitai (batalyon Jepang) yang bermarkas
di gedung ex MULO (Sekolah Menegah Pertama jaman Belanda) yang kini
digunakan SMU 2 Purwokerto. Daitai tersebut di bawah pimpinan Mayor Yuda
Mitsuomi, terdiri dari 5 kompi dengan wilayah teritorial Karesidenan banyumas
dan Pekalongan. 2 kompi di Purwokerto, 2
kompi di Cilacap dan 1 kompi di Pekalongan. Dalam masing-masing kompi terdapat
3 peleton Jepang dan 1 peleton Heiho (pribumi, pembantu tentara). Komandan Militer
Jawa Tengah (Chubu Jawa Boeitai), Mayjen Junji Nakamura, berkedudukan di
Magelang.
Menurut ejaan baru ejaan nama orang Jepang ditulis
terbalik, misalnya Yuda Mitsuomi dan Junji Nakamura.
Lawan perang Jepang tergabung dalam Pasukan Sekutu
yang dipelopori Amerika Serikat dan dipimpin oleh Jenderal MacArthur yang
bergerak dari Australia, telah menduduki kembali tempat-tempat strategis pada
sebagian wilayah strategis Indonesia mula-mula di Papua Barat yaitu Hollandia
(22 April 1944), Biak, Morotai, kemudian di Borneo (kini: Kalimantan) yaitu di
Balikpapan (1 Juni 1945) dan Tarakan (1 Juli 1945).
Dalam pemberitaan suratkabar, Jepang selalu menang
perang dengan hebatnya, tetapi celakanya medan perangnya selalu terdesak
mendekati Indonesia, padahal setelah perang kita ketahui bahwa selalu kalah
perang dan terdesak.
Menjemput Bung Karno-Hatta di Jakarta.
Dalam surat kabar Asia Raya dari Jakarta
yang banyak beredar di daerah Banyumas tanggal 15 Agutus 1945, diberitakan
bahwa tanggal 14 Agustus kemarin Sukarno-Hatta baru tiba dari Dalat di Indo
Cina (kini: Vietnam). Memang sudah satu minggu berita Sukarno-Hatta tidak
dimuat surat kabar.
Kedua pemimpin tersebut dijemput di lapangan
terbang Kemayoran Jakarta oleh para pembesar Jepang, para pejabat pusat dan
daerah (Jawa) dan rakyat. Menurut kesaksian orang lain, dua pejabat Banyumas
masih di Jakarta keesokan harinya, walaupun kedua pejabat tersebut sudah lupa
untuk apa mereka pergi ke Jakarta. Tanggal 15 Agustus B.M.Diah wartawan Asia
Raya yang baru keluar dari tahanan ketemu Mr.Gatot Tarunamiharja, Ketua
Pengadilan Negeri Purwokerto. Mr.Sujono pejabat pemerintah Dai Nippon yang
mendarat bersama Pasukan Jepang dari Taiwan, pada hari itu kedatangan tamu
Mr.Iskak, yang dalam memoirnya tidak menyebut hal itu sama sekali.
Dalam Buku Peringatan 75 tahun (1982) Daidancho
Jakarta I Mr.Kasman Singodimedjo, dikisahkan bahwa setelah Jepang menerima
deklarasi Postdam, yang artinya menyerah tanpa syarat, maka Balatentara Dai
Nippon ke 16 di Jawa mengundang para
daidancho di seluruh Jawa dan Madura agar pada tanggal 16 malam menghadiri
pertemuan di Seibu Honbu (Markas Tentara Jawa Barat), Bandung. Penginapan
disediakan di Hotel Kooa. Menurut Mr.Kasman Singodimejo, Daidancho Jakarta I,
Daidancho Sudirman dari Karesidenan Banyumas juga hadir, antara lain bersama
Chudancho Taram (terakhir letkol purn., mantan Direktur Pabrik Gula Kalibagor,
alamat di Jalan Pramuka Purwokerto, tepat sebelah barat RS Bunda)
Dalam pertemuan yang singkat tersebut Komandan
Mayjen Mabuchi yang berbicara atas nama Panglima Tentara Dai Nippon 16,
memberitahukan bahwa Jepang telah menyerah. Semua persenjataan daidan serta
barang-barang yang langsung berhubungan dengan persenjataan, seperti bensin dan
pakaian militer, harus diserahkan kepada Jepang yang selanjutnya dierahkan
kepada Sekutu, artinya Peta dilucuti. Bahan makanan
(gandum, beras, jagung) dan pakaian dalam supaya dibagi-bagi.
Menurut Kasman selesai pertemuan, ia mengadakan
pertemuan informal di hotel bagian belakang. Tidak semua Daidancho ikut, hanya
sekitar 20 orang, tetapi para Daidancho
Kyai pada umumnya tidak setuju, termasuk Daidancho Jakarta II di Purwakarta,
yaitu R.Suryodiputro, cucu Patih Arya di Purwokerto.
Pagi hari Jumat tanggal 17
Agustus 1945 di Bandung itu, Kasman Singodi-medjo masih memanfaatkan waktu
berbicara lebih mendalam dengan para daidncho yang tidak setuju dengan
gagasannya untuk menyerahkan persenjataan Peta kepada Jepang, termasuk kepada
Daidancho Sudirman. Hal ini tidak pernah disebut-sebut
dalam biografi Soedirman yang banyak diterbitkan.
Daidancho Sudirman ke Bogor
Kisah mengenai undangan Sudirman ke Bogor ternyata banyak mengalami improvisasi
yang kurang masuk akal. Seperti dalam Biografi penerbitan Kementerian
Penerangan 1950 yang kemudian banyak dikutip biografi Soedirman yang lain,
disebutkan bahwa: "Pada bulan Djuli 1945 Soedirman diasingkan di Bogor oleh Djepang
bersama-sama dengan Soegeng dan beberapa opsir PETA lainnja. Sesoenggoehnja
dalam pengasingan itu Soedirman dengan kawan-kawannja sudah disediakan untuk
dibunuh,…." Sugeng adalah Shodancho Daidan I Cilacap, para opsir PETA
yang lain termasuk Chudancho Taram. Kalau diasingkan memang masuk akal, tetapi
kalau mau dibunuh adalah statement yang tidak logis, Jepang sudah patah semangat,
dan tidak akan melaksanakan perbuatan yang kontraproduktif dalam menjaga
keamanan dan ketertiban. Pada waktu hidupnya ABRI yang memiliki Lembaga Sejarah
saja belum sempat mewancarai kolektif simultan mengenai masalah ini. Kertas arsip biografi PETA Banyumas sayang
sekali baru dikilokan tahun 2002.
Menurut kesaksian
Daidancho Karesidenan Jakarta I Mr. Kasman Singodi-mejo, pagi tanggal 17
Agustus, ia masih menyaksikan Sudirman ikut hadir dalam pertemuan daidancho
seluruh Jawa. Daidancho Sudirman mungkin terus menuju ke Bogor, untuk memenuhi
undangan dari Bogor, Kasman sendiri tidak menceritakan hal itu.
Seorang Shodancho
Sudarmono dari Chudan (Kompi) IV Daidan Surakarta I yang bersama Shodancho
Suhartoyo, juga diundang ke Bogor, menceritakan bahwa undangan tersebut
disampaikan katanya untuk mengikuti pendidikan khusus. Demikian pula kata
Shodancho Abdullah Saleh dari Markas Besar Pembinaan PETA Jawa Barat di
Bandung. Tetapi setelah ditanyakan di Bogor pendidikan khusus tersebut tidak
ada.
Menurut Shodantyo Ruliaman
(putera ex Perdana Menteri Mr.Ali Sastro-amijoyo, cucu Wedana Batur
Banjarnegara) dari Daidan Banten II di Bayah, yang ternyata juga diundang
tetapi ia hanya menyebutkan bahwa acara tersebut adalah untuk menghadiri
upacara pembubaran PETA. Semula ia juga sangsi memenuhi undangan tersebut,
dalam kisahnya ia lupa acaranya.
Mereka semua mengisahkan bahwa undangan tersebut
disampaikan setelah Jepang menyerah (tanggal 16 Agustus), dalam undangan
tersebut memang acaranya dirahasiakan, tidak disebut acara sesungguhnya.
Proklamasi di Banyumas
Proklamasi RI ternyata tidak otomatis berlaku di
daerah, karena Pemerintah Jepang memang diam saja membisu.
Sebagian besar bangsa
Indonesia mengetahui bahwa Proklamasi atau hari lahir negara kita dilaksanakan
pada tanggal 17 Agustus 1945, tidak ada satupun orang Banyumas yang hadir. Adik
ipar Bupati Banyumas, So Sidobu Daidancho
di Jakarta hadir sebagai anggota PPKI,
tetapi selanjutnya sangat sibuk menghadiri sidang dan menjadi Ketua Panitya
Kecil Pembubaran PETA dan tanggal 20 Agustus menjadi Ketua Muda Kantot Besar
BKR di Jakarta
Hasil Rapat Besar PPKI
(maksudnya sidang) tanggal 18 adalah penyusunan UUD (dengan sendirinya tidak
dinamakan UUD 45), Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang atas usulan Oto
dilaksanakan secara aklamasi. Juga dibentuk Panitya
Kecil Oto yang akan menyusun urgensi program.
Pada tanggal
19 dihasilkan susunan kementerian, pembagian propinsi RI. Propinsi di
Jawa yang dihapuskan Jepang dibangun kembali. Skala prioritas hasil urgensi
program Panitya diusulkan, yaitu pemerintahan, pangreh praja, kepolisian dan
tentara kebangsaan. Tetapai ternyata yang dilaksanakan mengenai tentara
kebangsaan lebih dulu. Bekas PETA juga dianjurkan masuk polisi. Beberapa opsir
PETA Karesidenan Banyumas memang masuk polisi.
Pembentukan Kantor
Besar BKR (Badan Keamanan Rakyat) Jakarta
Panitya Kecil Oto Iskandar
Dinata dari Sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945 melaporkan hasil kerja esok
harinya hari Minggu tanggal 19 Agustus. Dalam laporan urutan urgensi yang
dikerjakan pemerintah berturut-turut adalah pembagian daerah, pangreh praja,
kepolisian dan tentara kebangsaan. Kemerdekaan RI sudah diproklamasikan, tetapi
pemerintah RI tidak otomatis berkuasa, surat kabar masih di bawah pengawasan
Jepang, notulen yang berjudul "rapat besar" PPKI itu tidak disiarkan
surat kabar, kena sensor Jepang.
Dalam sidang PPKI tanggal
19 itu sebetulnya Oto Iskandar Dinata, yang menjabat Jawa Gunsei Chianbu Sanyo
(Penasehat Keamanan Pemerintah Balatentara Dai Nippon di Djawa) yang barangkali
tidak mengetahui bahwa pemerintah Jepang juga pada hari itu membubarkan Jepang,
mengusulkan agar Peta, Heiho dibubarkan, dan tentara kebangsaan dibentuk.
Soekarno sebagai Ketua bahkan menyetujui dan menambah kata-kata "segera
dibentuk", dan membentuk Panitya Kecil pembubaran PETA yang diketuai
anggota PPKI Boeigyugun So Shidobu Daidancho (Mayor Kantor Pusat Pembinaan
PETA) Abdulkadir Tarunamiharja. Tetapi yang kedengaran di luaran terutama di
kalangan pemuda adalah "usulan pembubaran PETA" saja, sehingga semua
penulis sejarah sampai sekarang masih beranggapan demikian (terakhir Subadio).
Hal inilah yang diduga salah satu sebab kelak pada bulan Desember 1945 Oto
diculik orang dan tak diketahui nasibnya.
Baik Oto maupun Abdulkadir
bukan orang asing di kalangan orang Banyumas. Oto adalah menantu R.Sumaji
Martodiwiryo, mantan Camat Kalibening di Gang Mas Cilik Purwokerto. Abdulkadir
sebelumnya adalah Daidancho (Dan Yon) Karesidenan I di Gombong (yang digantikan
Bambang Sugeng), ia adalah adik ipar Bupati Banyumas 1933-1949 Sujiman
Gandasubrata. Abdulkadir adalah putera Dr.Taruna-mihardja di Krawang, yang
putera Penatus Tinggarjaya, Jatilawang.
Tanggal 19 sore harinya, para pemuda dan
mahasiswa mengundang Ketua dan anggota PPKI mengadakan rapat di asrama
mahasiswa Sekolah Dokter Tinggi di Prapatan 11 Jakarta (muka Toko Gunung Agung
sekarang) untuk membicarakan Dektit Pembentukan tentara kebangsaan. Buku
Penerbitan Sekneg 1992 masih mengira bahwa sidang itu adalah sidang PPKI ke III
tanggal 20 Agustus. Rapat PPKI III yang dikemukakan oleh pengamat sejarah
Semarang Amen Budiman, dalam polemiknya dengan Bung Hatta disangkal keras,
sebelum para mahasiswa Jakarta menerbitkan bukunya, walaupun Amen Budiman
mengemukakan bukti suratkabar. Tetapi berita surat kabar bukan dokumen, belum
tentu merupakan fakta sejarah.
Setelah pembentukan tentara kebangsaan
didiskusikan, para anggota PPKI tidak setuju, karena dapat dianggap
konfrontatif dan melanggar status quo terhadap pemerintah Jepang dan Sekutu
yang masih berkuasa dan bersenjata lengkap. Tetapi pembentukannya
dikamuflasekan sebagai badan sosial yang menampung para bekas anggota pasukan
bersenjata dan pemuda yang berminat, dengan nama BKR (Badan Keamanan Rakyat)
Hal ini pernah dibukukan oleh Mayjen TNI dr.Suyono Martosewoyo yang terkenal
dengan nama Suyono Markas, karena menjadi pemimpin markas mahasiswa Mampang,
terakhir menjadi Pejabat Tinggi Depkes, ex Mahasiswa Sekolah Dokter Tinggi (Ika
Daigaku), putera Mantan Mantri Guru Karanglewas yang berdomisili di Jalan
Telepon Purwokerto (muka rumah dinas Ketua DPRD). Nama Suyono ditambahi Markas,
karena adalagi mahasiswa asal Banyumas lain yang bernama Suyono putera
Yudodibroto, Residen Banyumas yang pensiun di Jalan Masjid. Ia dikenal dengan
Suyono Yudo, yang menjadi supir Bung Karno ketika akan menghadiri rapat raksasa
11 September 1945 di lapangan Gambir. Pengawal depan adalah Subianto Margono
yang mengendarai sepeda motor, mahasiswa kedokteran yang telah dipecat Jepang
karena mengadakan pemogokan anti gundhul. Suyono Yudo pernah manjadi Polisi
Tentara Tangerang, Komandan Batalyon Siliwangi, terakhir menjadi Dokter
Spesialis Ilmu Penyakit Mata Dosen FKUI dalam Ilmu Penyakit Mata.
Pembubaran PETA di Banyumas
Pada hari Sabtu tanggal 18
sore hari sesuai dengan perintah per telegram pembubaran PETA oleh Jepang
dilaksanakan di daerah. Penulis yang pada waktu itu berdomisili di Jalan
Onderan Banyumas (kelas 3 sekolah rakyat),
yang hari Sabtu sore ke jalan raya, menonton anggota PETA Daidan IV Banyumas
pulang kampung, ternyata terperanjat, karena para anggota PETA tersebut
berpakaian bebas, buka baju, ada yang mendorong gerobag, menyewa gerobag sapi
atau menyewa kuli pengangkut barang. Pembantu penulis menceritakan, bahwa
tetangga kampung belakang rumah yang menjadi prajurit PETA mengatakan bahwa
para anggota PETA diberi pesangon gaji enam bulan dan bahan in natura, seperti
beras, gandum, jagung, gula,rokok Koa karena akan ada pergantian persenjataan
PETA.
Para opsir PETA yang menghadiri
acara di Bogor menyebutkan bahwa setelah pulang ke daidan masing-masing
ternyata daidannya sudah bubar dan dilucuti Jepang. Soedirman tiba di Daidan III Kroya, yang
menurut penelitian Disjarah ABRI (1985:134) pada tanggal 19 Agustus. Ia segera memanggil ex Shodancho Yasir dan
berhasil menghimpun 6 orang ex opsir PETA untuk memberikan briefing
penga-lamannya ketika dalam perjalanan mampir di Jakarta dan sempat ketemu Bung
Karno dan mendapatkan pesan-pesannya.
Dua orang Daidancho pulang kampung, Susalit dari
Sumpyuh pulang ke lingkungan tante/ibu angkat adik Kartinidi, ibu Kardinah di
Tegal. Sutirto dari Cilacap ke tempat isteri yang sudah mendahuluinya ke
Semarang. Sudirman sementara istirahat
tetap di perumahan Daidan.
Gatot Subroto diangkat menjadi Kepala Polisi
Istimewa di Purwokerto, masih di bawah kekuasaan Dai Nippon. Menjadi anggota
polisi memang dianjurkan oleh oleh Oto Iskandar dalam pidato di PPKI tanggal 19
Agustus, karena polisi adalah satu-satunya instansi yang masih bersenjata. Gatot
tidak sendirian masuk polisi, ada beberapa ex Shodancho yang mengikutinya di
Purwokerto dan Purbalingga, seperti ex Shodancho Hartoyo, Suratno, Sutrisno, Sarengat dll.
Pembentukan Kantor
Besar BPKKP/BKR
Pemuda mahasiswa
pemrakarsa proklamasi di Jakarta, seperti Suyono Martosewoyo maupun Subadio
secara terpisah, dalam memoirnya menceritakan bahwa pembentukan BKR didekritkan
oleh BPP (Badan Pembantu Prajurit) pada hari Senin 20 Agustus (harian Tjahaja).
Isinya yang pertama-tama mengubah BPP menjadi BPKKP (Badan Pembantu Keluarga
Korban Perang) yang tetap dipimpin Oto, kemudian membentuk BKR sebagai badan
sosial BPKKP. Melalui jalur birokrasi Jepang BPKKP/BKR dibentuk di daerah.
Harian Tjahaja Bandung paling banyak menyiarkan pembentukan BKR karena
pemimpinnya adalah Oto Iskandar Dinata, tapi di Banyumas jarang pelanggannya.
Agen harian Asia Raya Jakarta di Purwokerto adalah Toko Buku M.Atma,
kini dipertelon Jalan Sudirman/Sutoyo, dulu kios berhadapan dengan Toko
Mitra.
Ketua Pengurus Besar BPKKP adalah Oto Iskandar Dinata, Penasehat
Keamanan Jawa (Djawa Gunsei Chianbu Sanyo), Pimpinan Harian Tjahaja
Bandung & Anggota PPKI. Ketua Muda Kafrawi, ex Daidancho Bogor III
di Sukabumi. Personalia ini baru diketahui dari harian Tjahaja Bandung 1
September 2605, tetapi hanya disebut nama dan jabatan saja.
Selanjut diberitakan bahwa di badan baru itu
diadakan satu bagian yang diberi nama Badan Kemanan Rakyat. Ketua Pengurus
Kantor Besar BKR adalah Mr.Kasman Singodimedjo, ex Daidancho Jakarta I
(terakhir Jaksa Agung RI II), Ketua Muda Abdulkadir Tarunamihardja, ex
So Shidobu Daidancho (terakhir Mayjen TNI Purn., Dubes RI di Afghanistan) dan Penulis
R.Arifin Abdurakhman, ex Boeigyugun So Shidobu Keiri Shodancho (Opsir
Administrasi Kantor Pusat Pembinaan PETA), terakhir Guru Besar Manajemen Unpad
dan Mayjen TNI Purn., menantu Mantri Guru Adipala Cilacap, ketika akhir
hidupnya sering berziarah di Pesarean Dawuhan Banyumas. Pengurus yang dibentuk
tanggal 20 Agustus ini baru disiarkan harian Tjahaja 27 Agoestoes 2605 hal.2
kolom 6.dengan judul Berita Kantor Besar Badan Pemlong Keloearga Korban
Perang tetapi hanya disebut nama-namanya saja, tanpa jabatannya. Alamat
Kantor Besar BPKKP adalah Gambir No.2 Jakarta (kini Mabes ABRI).
Pembentukan BKR Daerah ini
dipercepat oleh kurir-kurir yang dikirimkan oleh markas pemuda dan mahasiswa
yang berminat dalam pembentukan tentara kebangsaan, yang beralamat Garasi
Matraman Plantsoen 10 Jakarta, tempat tinggal Margono Djojohadikusumo, Kepala
Kantor Besar Pengawasan Makanan Rakyat Departemen Kemakmuran Pemerintah di
Jawa. Ia adalah ayahanda Subianto Margono, dan Subianto paman Letjen TNI
Purn.Prabowo Subianto. Margono Djojohadikusumo yang juga pendiri BNI adalah
putera Ajun Jaksa Besar Banyumas yang berdomisili di Jalan Landraad
(Pengadilan) Banyumas. Para pemuda dan mahasiswa aktivis pembentukan BKR adalah
Subianto Margono (mahasiswa STI atau Sekolah Tinggi Islam, ex mahasiswa Ika
Daigaku yang dipecat), Daan Jahja (ex Chudancho Daidan Shidobu Jakarta, ex
mahasiswa Ika Daigaku yang dipecat, terakhir Kol.Daan Jahja, Komandan KMKBDR
Jakarta), Bagdja (mahasiswa STI), Muffraeni Mukmin (ex Shodancho Jakarta I),
Suroto Kunto (mahasiswa STI, ex mahasiswa Ika Daigaku yang dipecat, ex Lomandan
Resimen Krawang yang hilang diculik).
Sebelum Proklamasi
Kemerdekaan dilaksanakan di Karesidenan
Banyumas, pemerintah daerah telah menunggu-nunggu instruksi atau kurir dari
Jakarta tetapi sampai tanggal 20 belum juga tiba. Pemerintah Balatentara Dai
Nippon masih berkuasa seperti biasa, hanya orang-orang militer Jepang jarang berkeliaran dan tidak masuk kerja,
yang ada hanya patroli Kenpeitai yang terkenal kejam. Kemudian telah dikirimkan
dua kali kurir dari Pemerintah Pusat RI yang belum terbentuk melalui jalur
birokrasi Jepang untuk melaksanakan pembentukan BPKKP (Badan Keluarga Korban
Perang)/BKR (Badan Kemanaan Rakyat), KNI (Komite Nasional Indonesia) dan PNI
(Partai Nasional Indonesia).
Dari Markas Matraman tersebut diutus kurir-kurir
ke seluruh Jawa, yang akan membawa instruksi pembentukan BKR, mendengarkan
siaran Presiden tentang pembentukan BKR dan KNI pada tanggal 23 Agustus 1945
malam melalui Pusat Radio Jawa yang tidak dikuasai Jepang. Instruksi tersebut
yang menyebutkan panggilan BKR harus sudah dimulai tanggal 24 Agustus, dan pembentukan
dan pengangkatan para pengurus BKR Karesidenan, Kabupaten, Distrik, Kecamatan
dan Kelurahan.
Kurir Pembentukan BPKKP/BKR Karesidenan Banyumas
Kantor BPP (Badan Pembantu Prajurit)
merupakan bagian Banyumas Shu Chianbu (Keamanan Karesidenan Banyumas), di bawah pimpinan Ketua K.H.Dardiri dan Ketua
Muda adalah Hasanmihardja, yang juga Ketua Masjumi Karesidenan Banyumas
(ayahanda Drs.Apotheker Muslikh dari Apotik Widuri Purwokerto).
Diperkirakan pada tanggal 21
Agustus, seorang kurir dari pusat yang ditunggu-tunggu tiba dengan kereta-api,
tetapi ia seorang kurir dari Kantor Besar BPKKP Jakarta yang akan membawa instruksi pembentukan BPKKP dan BKR Banyumas,
dengan pesan-pesan seperti tersebut di atas. Yang akan ditemui mestinya Ketua
BPP (Badan Pembantu Prajurit) Karesidenan Banyumas K.H.Abu Dardiri, yang
berkantor di Kantor Karesidenan Banyumas (kini SMU 1 Purwokerto).
Nama kurir tersebut dapat kita ketahui dari berita kecil di harian Tjahaja Rebo Pon 29 Agoestoes 2605, dengan judul Badan
Keamanan Rakjat. Di situ juga
diberitakan: "hadlir dari Djakarta toean R.Soetopo." Dalam
berita itu disebut bahwa pimpinan BKR adalah Sudirman dan Sutirto. Menurut
Sutirto, yang menemui penulis di rumah tanggal 1 Januari 1982 ketuanya adalah
Sudirman, dia yang lebih senior dari Sudirman memandang lebih tepat yang jadi
ketua adalah Sudirman, ia juga pengagum Sudirman. Dalam berita tersebut
disebutkan bahwa 'diputuskan mengirimkan tuan Abu Dardiri, Hasanmihardja dan
Sudirman ke Jakarta untuk mengadakan perundingan yang lebih jelas.'
Ternyata memang kelak ada undangan rapat BPKKP/BKR seluruh jawa di
Jakarta.
Mayjen TNI Purn Dr.Suyono
Martosewoyo,yang pada tanggal 3 Juni 1987 penulis temui sedang bertakziyah
(berhubung wafatnya adik ibunya) di Pesarean Kalibogor Purwokerto) sudah lupa
siapa Sutopo itu. Pada tanggal 25 Januari 1998 penulis menemui dr.Suyono Yudo
dalam rangka Peringatan Pertempuran Lengkong di Tangerang. Ia menerangkan bahwa
Sutopo adalah sahabat Subianto, sama-sam alumni SMT (Sekolah Menengah Tinggi)
Jakarta, keduanya gugur pada waktu Pertempuran Lengkong pada tahun 1946. Menurut Suyono, seperti
dirinya, Sutopo menjadi opsir polisi tentara (PT) Resimen 5 Detasemen
Tangerang. Wakil Kepala Polisi Tentara Tangerang adalah Lettu Satu Subianto
Margono, Opsir Siasat (Perwira Operasi) adalah Lettu R.Sutopo, sedangkan Lettu
Suyono menjadi Opsir Personalia Detasemen Polisi Tentara tersebut. Pada waktu menjadi kurir, Sutopo (22
tahun) sudah menjadi pegawai Pengadilan Negeri Jakarta, karena tamat SMT ia
ikut kursus singkat hakim). Ia berasal dari Pekalongan, orang tua almarhum adalah pegawai Kantor
Besar DKA di Bandung.
Pengumuman Penyerahan
Jepang
Penyerahan Jepang tanggal
15 Agustus pukul 12.00 waktu Tokyo (10.30 WIB) tetapi baru tanggal 21 Agustus,
Saiko Sikikan Jawa baru mengumumkannya secara resmi melalui radio. Dan
bersamaan dengan itu dicabut pemadaman lampu di malam hari, yang diberlakukan
sebagai pengamanan terhadap bahaya udara.
Jepang tidak pernah mengumumkan dirinya menyerah,
tetapi mengumumkan dengan kata-kata yang tersamar, yaitu menghentikan
peperangan. Pengumuman yang berupa "Sabda Tennoo Heika"
(istilah Kaisar Hirohito waktu itu) dan "Maklumat Saiko Sikikan
(istilah Panglima Tentara) kepada rakyat di Jawa" baru disiarkan
Pusat Radio Pemerintah Hosyokyoku pada tanggal 22 Agustus pukul 21.00 Waktu
Tokyo (19.30 WIB), dan disiarkan koran Asia Raya sore hari yang sama,
yang dibaca di Purwokerto keesokan harinya.
Orang baru pertama kali
mendengar suara Tennoo yang melengking tinggi di radio dan melihat gambarnya di
koran-koran. Kaisar Jepang tabu dimuat gambar dan
didengar suaranya oleh umum. Orang awam, bahkan isteri ex Perdana Menteri
Jepang Tojo mengatakan, bahwa bahasa pidato tersebut dihiasi kata-kata puitis
yang sulit dimengerti. Karena itu dalam Lembaran Negera Kan Poo tanggal 25
Agustus, secara hati-hati diterjemahkan dengan kata pengantar: "Dengan
penuh perasaan khidmad di bawah ini diterakan terjemahan percobaan untuk
mendekati arti dan maksud Sabda Y.M.M. Tennoo Heika yang telah diturunkan
kepada rakyatNya pada tgl. 14 Agustus ini dengan ditandatangani oleh Y.M.M. dan
juga turut ditandatangani oleh para Menteri." Dalam koran Asia Raya
dimuat berita bahwa siaran tersebut disambut
Pidato Presiden
Pidato
radio Presiden melalui siaran radio klandestin Pusat Radio Jawa pada tanggal 23
Agustus malam hari, sesuai pesan kurir termasuk yang harus didengarkan oleh
para pejabat daerah yang masih di bawah kekuasaan Jepang. Siaran radio darurat
itu tidak begitu jelas, yang penting di antaranya, sesuai teks asli kemudian
dengan penyesuaian ejaan, adalah tentang BKR:
"Selain dari pada itu kami telah memutuskan
untuk mendirikan dengan segera di mana-mana Badan keamanan Rakyat untuk
membantu penjagaan keamanan. Kita adakan Badan Keamanan Rakyat ini untuk
mendapat keamanan yang seteguh-teguhnya. Banyak, banyak sekali tenaga-tenaga
yang tepat sekali untuk melaksanakan pekerjaan ini. Bekas prajurit PETA, bekas
prajurit Heiho, bekas prajurit Pelaut, pemuda-pemuda yang penuh dengan semangat
pembangunan, mereka semua adalah tenaga-tenaga yang baik untuk pekerjaan ini.
Menjelmakan kebulatan kemauan dan cita-cita seluruh bangsa untuk menyusun
negara yang akan menghadap dunia internasional.
Karena
itu saya mengharap kepada kamu sekalian hai prajurit-prajurit bekas PETA Heiho
dan Pelaut beserta pemuda-pemuda lain untuk sementara waktu masuklah dan
bekerjalah dalam Badan Keamanan Rakyat.
Percayalah,
nanti akan datang saatnya kamu dipanggil untuk menjadi prajurirt dalam tentara
kebangsaan Indonesia."
Tentang
Proklamasi dikatakan:
"Bangsaku
sekalian! Memproklamirkan kemerdekaan itu adalah
gampang, membikin Undang-undang Dasar tidak sukar. Memilih Presiden dan Wakil
Presiden adalah gampang lagi. Tetapi menyusun badan-badan dan
jabatan-jabatan kekuasaan dan administrasi negara serta mencari pengakuan
internasional, terutama sekali dalam keadaan seperti sekarang ini di mana
pemerintah Dai-Nippon masih diwajibkan oleh status quo internasional, untuk
tinggal di negeri ini guna menjalankan administrasi dan menjaga ketenteraman
umum, pekerjaan ini tidaklah gampang."
Pembentukan BPKKP/BKR Karesidenan
Banyumas
Dengan instruksi tersebut K.H.Dardiri otomatis menjadi Ketua BPKKP.
Ia segera menghubungi para ex Daidancho untuk memenuhi instruksi tersebut. Yang
dapat segera hadir hanya Sudirman yang baru tiba kembali di Kroya dan Isdiman
yang sudah dua bulan menjadi Kepala Sekolah Guru Atas di Purbalingga. Dardiri
menyuruh Sudirman di Kroya dan Abimanyu di Purwokerto menghubungi
teman-temannya. Yang tidak dapat hadir Susalit karena ingin kembali ke
masyarakat sebagai pangreh praja di Tegal. Gatot Subroto sudah jadi kepala
polisi istimewa (sejenis brimob). Sutirto yang sudah di Semarang dengan
undangan telepon mau datang. Isdiman yang selama dua bulan sudah menjadi Kepala
Sekolah Guru Purbalingga juga bersedia. Dari para Opsir kesehatan, hanya
Dr.Rajiwan yang mau datang, karena ia memang orang Banyumas, putera Carik
Kedunggede, belakang RSU Banyumas. Tiga dokter lainnya pulang kampung.
Pembentukan
BKR daerah Banyumas juga dapat kita ketahui dari berita kecil di harian Tjahaja Rebo Pon 29 Agoestoes 2605, dengan judul Badan
Keamanan Rakjat, tanpa menyebut tempat dan tanggal pembentukan. Tetapi
mengingat pemberitaan dari Purwokerto biasanya memakan waktu 4 hari (seperti
juga pembentukan KNI Banyumas), kemungkinan besar pembentukan BKR daerah jatuh
pada tanggal 25 Agustus 1945, seperti berita pembentukan BKR Kedu di kolom
yang sama juga dengan jelas disebut tanggal 25/8. BKR Karesidenan Banyumas
beralamat di sebelah utara SR Alun-alun (yang kini Gedung BNI Purwokerto).
Sampai kini kita belum dapat melengkapi para
kepala BKR dari daerah kabupaten, distrik, maupun kecamatan (72 kecamatan).
Anggota KNIP Pusat di
Jakarta
Dalam harian Tjahaja tanggal
27 Agustus, dapat kita baca pengumuman nama-nama 137anggota KNIP di Jakarta,
yaitu lembaga revolusi yang disusun sebelum Pemerintah Daerah RI diumumkan.
Ternyata dari daerah Banyumas hanya seorang yang diangkat menjadi anggota,
yaitu Mr.Gatot Tarunamiharja, Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto, kakak ipar
Bupati Banyumas. Demikian pula adik iparnya yang menjadi Ketua Muda Kantor
Besar BKR Abdulkadir Tarunamiharja diangkat menjadi anggota, jadi satu-satunya
kakak beradik yang menjadi anggota KNIP. Mr.Gatot adalah pembela Bung Hatta
pada waktu diadili di Negeri Belanda, kemungkinan besar pengangkatan tersebut
atas anjuran Bung Hatta.
Pembentukan KNI di
daerah Banyumas
Kurir kedua dari Jakarta yang tiba di Purwokerto
adalah R.Suhud. Ia dikenal sebagai anggota Barisan Pelopor Jakarta, dan anggota
Pengurus Pusat Djawa Hokokai (Kebaktian Rakyat). Ketua Hokokai adalah Bung
Karno sendiri. Menurut sejarah KNI Yogyakarta, KNI Daerah memang dibentuk
melalui jalur birokrasi Hokokai, yang tanggal 30 segera membubarkan diri.
Soehoed yang membawa instruksi dan menyaksikan pembentukan KNI Daerah
Banyumas di Purwokerto pada tanggal 28 Agustus (dimuat harian Tjahaja
1 September 2605). Yang dipilih jadi Ketua adalah Mr.Iskak, sedangkan Wakil
Ketua adalah Mr.Gatot. Jadi Mr.Gatot yang telah diangkat menjadi anggota
KNIP, kini merangkap Wakil Ketua KNID Banyumas. Kelak setelah diangkat jadi
residen, Mr.Iskak adalah satu-satunya Residen yang menjabat Ketua KNI Daerah,
jadi pimpinan revolusi dan pangreh praja di satu tangan. Suhud juga memberikan
sambutannya. Dalam surat kabar Tjahaja tanggal 27 kemarin yang tiba di Purwokerto
tanggal 28 pagi, Bung Karno menganjurkan pembentukan KNI didaerah.
Pembentukan KNI Kabupaten Banyumas yang
dihadiri Ketua KNI Karesidenan Banyumas, juga disiarkan harian Tjahaja,
yang terbit tanggal 3 September, tanpa menyebut tanggal pembentukan. Yang
dipilih adalah Ketua adalah Bupati Banyumas, sedangkan Wakil Ketua
S.Hadikusumo, Panitera Pengadilan Negeri Banyumas, orang Jawa Timur seperti
Mr.Iskak, tokoh Hookookai Banyumas. Jadi Bupati Banyumas ex officio juga Ketua
Ketua KNI. Brigjen TNI Purn Abimanyu salah ingat, dalam wawancara Harian Merdeka
30 Desember 1979 mengira Ketua KNI Karesidenan adalah Hadikusumo.
Pembentukan KNI Kabupaten Purbalingga
dilakukan setelah Mr.Iskak pulang dari Jakarta, karena baru dimuat harian Tjahaja
7 September dengan Ketua Bupati
Purbalingga dan Wakil Ketua Dr.Saiful Anwar, Dokabu Purbalingga, yang
namanya kini dibadikan sebagai nama RSU di Malang. Sedangkan
berita pembentukan KNI Kabupaten Banjarnegara dan Cilacap belum ditemukan. Mengingat tanggal 29 Agustus sampai dengan
tanggal 2 September ada di Jakarta, jadi pembentukan KNI Kabupaten Banyumas ini
mestinya paling lambat tanggal 29 pagi, mengingat petang hari sudah harus
menghadiri
Sidang KNIP di Jakarta
Tanggal 29 diadakan Sidang Pembukaan KNIP di Gedung Komidi Jakarta
pukul 21.00 Waktu Tokyo (19.30 WIB). Yang mendapat undangan dari Banyumas
adalah Mr.Iskak sebagai pejabat dan
Mr.Gatot sebagai anggota. Presiden Sukarno akan memberikan penjelasan apa yang sudah dan belum
dilaksanakan. Seperti diketahui selama belum terbentuk MPR (Majelis
Permusyawaratan Rakyat) tugas KNI adalah membantu Presiden menyelenggarakan
kekuasaannya. Yang dipilih menjadi Ketua I KNIP adalah Ketua Kantor Besar BKR
Mr.Kasman, Ketua II R.Sutardjo Kartohadikusumo, Residen Jakarta (pangreh
praja), Ketua III Mr.Latuharhary, calon Gubernur Maluku, Ketua IV Adam Malik,
Wartawan Kantor Berita Jepang Domei dan golongan pemuda pemrakarsa kemerdekaan.
Selanjutnya dari radio diberitakan bahwa tentara
Sekutu akan mendarat di Jakarta untuk mengambil alih kekuasaan dari Jepang.
Seharusnya menurut rencana tanggal 28 akan diadakan upacara penyerahan di
Tokyo, tetapi gagal karena Tokyo sedang dilanda angin topan.
Walaupun upacara penyerahan di Tokyo ditangguhkan,
sejak tanggal 28 ini, kita di daerah Banyumas dapat menyaksikan operasi
pendahuluan Sekutu, yang dinamakan Operasi Birdcage (Sangkar Burung),
yang bertugas menyebarkan pamflet dari udara di semua lokasi kamp interniran
Belanda. Pamflet ini isinya ditujukan kepada para penghuni kamp, tentara Jepang
maupun penduduk sekitarnya. Penulis masih ingat penyebaran pamflet semacam itu
di Banyumas. Kelak kita mengetahui bahwa selebaran itu dilakukan pesawat Dakota
Belanda yang berpangkalan di Balikpapan. Kamp
interniran Belanda terdapat di Komplek Pabrik Gula Purworejo'Klampok dan
Purwokerto. Balatentara Dai Nippon juga mendapat instruksi untuk mengasingkan
di tempat yang khusus dibangun untuk keperluan tersebut. Di kota Banyumas
memang sudah disiapkan di bekas asrama PETA di Jayengan Banyumas. Tangsi Jepang yang dikosongkan
direncanakan untuk persiiapan tangsi Tentara Sekutu.
Penyerahan direncanakan tanggal 2 September yad.,
dan sesudah itu Panglima Tentara Sekutu mengijinkan pengambila-alihan
pemerintah militer Jepang di bekas tanah jajahannya. Oleh karena itu timbul
kecemasan di antara pemimpin kita di Jakarta, bagaimana caranya mengambil-alih
pemerintahan di daerah, sebab sebentar lagi Sekutu akan mendarat. Selama
Pemerintah RI belum berjalan, Sekutu akan menyerahkan pemerintahan kepada
Belanda, sehingga kemerdekaan kita tinggal impian belaka. Sutardjo berpendapat
agar kita sepakat bahwa para kepala daerah yang sekarang menduduki jabatannya,
bupati yang pangreh praja itu adalah juga pemimpin rakyat. Bila kekuasaan
Jepang sudah diambil alih, yang paling berkuasa adalah bupati tersebut.
Soalnya bagaimana kini kita dapat menghubungkan
bupati yang masih di bawah kekuasaan Jepang, dapat dihubungkan dengan
pemerintah pusat RI. Sutardjo mengusulkan agar sekarang juga Bung Karno-Hatta
menemui kepala pemerintah militer Jenderal Yamamoto mengajukan permohonan agar
para bupati menghadiri acara perpisahan dan mengucapkan terima kasih kepada
Pemerintah Dai Nippon atas kepemimpinannya yang begitu baik selama tiga
setengah tahun berkuasa di sini. Para bupati agar selekas mungkin diundang ke
Jakarta, demikian pula Bung Karno-Hatta dan para calon menteri ikut diundang.
Setelah acara selesai dan para pembesar jepang meninggalkan gedung, tempatnya
digantikan Bung Karno-Hatta dan para calon menteri.
Para bupati supaya diberi tahu, bahwa kita telah
melaksanakna Proklamsi kemerdekaan RI, mereka diminta persetujuan angkat sumpah
dan janji mengakui dan tuduk kepada RI dan para pemimpinnya. Bila mereka
setuju, berarti telah ada hubungan Pusat dan Daerah. Kalau pemerintah Jepang
sudah pergi, mereka supaya melakukan kebijaksanaan serupa. Kenapa harus minta
izin pemerintah, Sutardjo mengatakan bahwa para bupati tidak dapat seenaknya
pergi, mereka harus meminta dan mendapat izin atasannya di daerah. Kalau tidak
diizinkan, berarti usaha kita gagal. Menurt rencana para bupati akan menghadiri
acara pada tanggal 2 September jadi secara tidak sengaja bertepatan acara
penyerahan Jepang di Tokyo.
Permusyawaratan BPKKP/BKR seluruh Jawa
Tidak hanya Fuku Suchokan yang mendapat undangan
ke Jakarta, tetapi BPKKP dan BKR seluruh
Jawa juga mengadakan permusyawaratan pada tanggal 30 Agustus, yang akan
diselenggarakan di Chuo Hokokai Kaikan, Gambir Selatan 6 Pengumuman undangan
diberitakan harian Tjahaja 28 Agustus, tetapi dalam koran hari berikut,
tempat permusyawaratan diubah di Balai Muslimin Kramat Raya 19 pukul 21.30
waktu Tokyo (19.00 WIB). Yang hadir sesuai rencana pengiriman delegasi, yaitu
Ketua dan Wakil Ketua BPKKP dan Ketua BKR Sudirman.
Pada tanggal 30 ini Mr.Iskak masih menghadiri
Permusyawaratan pembesar-pembesar dan pegawai-pegawai Tinggi Negara yang
menghasilkan: 1. Pengakuan kegawai NRI, 2. Sikap pegawai dan 3.Tindakan-tindakan,
meneruskan keputusan tersebut di daerah dan mengganti nama kantor dalam bahasa
Indonesia. (Harian Tjahaja Sabtoe Manis 1 September 2605)
Pada hari Minggu tanggal 31 Agustus diadakan
arak-arakan yang dihadiri dan diikuti semua utusan daerah dan anggota PETA yang
selesai bermusyawarah. Arak-arakan ini adalah arak-arakan terbesar di Jakarta
pada awal revolusi, tetapi jarang diperingati dan kalah pamor dengan rapat
Lapangan Gambir (kini Merdeka) tanggal 19 September yang dilarang Polisi Militer
Jepang. Arak-arakan tanggal 31 itu kemungkinan mendapat ijin dengan alasan
perpisahan PETA. Para utusan BPKKP/BKR daerah esok hari tanggal 1 September
sudah tiba kembali, sedang Residen menunggu para bupati berdatangan. Iskak
masih harus tinggal di Jakarta karena harus menghadiri pertemuan briefing
kepala jawatan pusat.
Mahasiswa Kedokteran Suyono Markas memberi tahu
penulis bahwa ia tanggal 1 September 1945 sambil pulang kampung membawa berkas
pengangkatan Sudirman sebagai Kepala BKR. Ia pulang berombongan bersama Sukmono
(terakhir Guru Besar Arkeologi, yang juga bertempat tinggal di Brobahan),
Waluyo (dokter ahli penyakit kulit asal Wonosobo, yang menurut iklan harian Kompas
bulan lalu baru meninggal di Bandung dalam usia 85 tahun). Suyono hanya
dapat menemui Suprapto (ex taruna Akademi Militer Kerajaan di Bandung, kelak
Pahlawan Revolusi) yang tinggal di Asrama Staf BKR di rumah sebelah timur
pertelon Mas Cilik-Kranji.
Pertemuan Kepala Daerah di Hotel Miyako
Pertemuan yang diusulkan Ketua II Sutarjo
Kartohadikusumo akhirnya dilaksanakan. Berita harian Tjahaja Selasa Wage
4 September 2605, hanya berjudul sebagai Pertemoean antara Presiden dan
Wakil Presiden dengan kepala-kepala Daerah. Pertemuan dihadiri
Presiden/Wakil Presiden RI, para Suchokan (pribumi), Fuku Suchokan, para Bupati
seluruh Jawa, di ruang atas Hotel Miyako (ex Hotel Des Indes, Jalan Gajah
Mada). pada hari Ahad tanggal 2 September. Rapat berlangsung antara pukul 10.00
-14.00 (jadi 08.30-12.30 WIB) dengan selingan istirahat..
Para calon Menteri, Mahkamah Agung, Jaksa Agung,
Sekretaris Negara dan Juru Bicara RI dan Gubernur tidak disebut dalam berita
koran.
Acara pertama yang
memungkinkan para kepala daerah diundang adalah acara perpisahan dengan
pemerintah Dai Nippon. Acara ini berakhir dengan sukses bahkan para kepala
daerah dapat bingkisan dari pemerintah. Sutarjo sendiri tidak dapat hadir
karena sakit. Acara pertama ini sama sekali tidak dimuat dalam pemberitaan
surat kabar, kena sensor. Pemerintah Jepang khawatir dituduh Sekutu merekayasa
pembentukan Pemerintah RI, padahal tugasnya adalah membatalkannya dan
mempertahankan status quo.
Acara ini masih diteruskan setelah para pembesar
Jepang meninggalkan gedung pertemuan. Acara kedua diawali dengan pelantikan
Kabinet RI, pejabat Negara (Ketua Mahkamah Agung, Jaksa Agung, Sekretaris
Negara dan Juru Bicara dan pelantikan para kepala daerah (residen dan bupati). Acara ini juga tidak diliput koran. Kisah ini dimuat dalam memoir
Pringgodigdo.
Para anggota kabinet adalah para Kepala Kantor dan Penasehat, maupun
pejabat Pemerintah Balatentara Dai Nippon di Djawa, jadi seolah-olah hanya
De-Nipponisasi saja, tanpa perubahan statusquo. Oleh karena itu peneliti Ben
Anderson menyebutnya Bucho-Cabinet (Kabinet Kepala Kantor Dai Nippon).
Hanya Menteri Penerangan Mr.Amir Syarifudin saja yang bukan pejabat pemerintah,
bahkan ia masih masih dalam tahanan Jepang di Penjara Lowokwaru Malang. Hal ini untuk menunjukkan bahwa para
anggota kabinet adalah bukan kolaborator saja. Jabatan Menteri Keamanan Rakyat
tidak ada, karena dianggap konfrontatif terhadap pemerintah. BKR menjadi beban
KNI dan dibiayai Fonds Kemerdekaan RI yang dipimpin Supeno (terakhir
Menteri Pemuda yang gugur dalam PK II 1949), ex pemuda mahasiswa asal Tegal,
menantu pensiunan Penilik Sekolah almarhum yang terakhir berdomisili di
Purwosari Purwokerto (timur Pasar Cerme).
Yang diangkat menjadi Jaksa Agung I RI adalah
Mr.Gatot, orang yang sudah mengantongi jabatan yudikatif dan dua jabatan
legislatif. Mr.Gatot belum dicopot sebagai Ketua Pengadilan Negeri Purwokerto,
Wakil Ketua KNID Banyumas dan Anggota KNIP. Sekretaris Negara Mr.Pringgodigdo
adalah bekas Sekretaris BPUPKI, yang sebelumnya jadi Wedana Purwokerto. Juru
Bicara RI adalah Sukardjo Wiryopranoto, Pemimpin Harian Asia Raya
asal Kesugihan Cilacap. Ketua Mahkamah
Agungnya adalah Mr.Tirtawinata.
Tentang
pengukuhan para pejabat daerah juga tidak dimuat koran, tetapi dimuat dalam memoir Sutarjo Kartohadikusumo Walaupun Sutarjo tidak hadir, tetapi ia sendiri
sebagai pangreh praja yang membuat konsep pengarahan, pelantikan dan
penyumpahan para bupati. Yang mendapat kehormatan berbicara atas nama para
bupati adalah Bupati Banjarnegara Sumitro Kolopaking yang dianggap
sebagai sesepuh.
Upacara Penyerahan Jepang
Penyerahan Jepang kepada Sekutu yang berlangsung
di kapal penjelajah US Missouri di Teluk Tokyo, yang batal dilaksanakan karena
badai tanggal 28, akhirnya dilaksanakan hari Ahad tanggal 2 September juga
dimuat dalam harian tersebut terakhir (4 September). Tentara Sekutu baru boleh
menduduki wilayah yang diduduki Jepang setelah tanggal penyerahan ini, karena
dibutuhkan persiapan lebih dulu. Penyerahan dilaksanakan oleh Panglima
Balatentara Dai Nippon kepada Panglima Balatentara Sekutu setempat.
Pertemuan BPKKP/BKR Banyumas
Rombongan utusan BPKKP/BKR diperkirakan
tiba kembali hari Sabtu tanggal 1 September. Mereka segera mempersiapkan
undangan pertemuan yang akan diselenggarakan.
Dalam harian Tjahaja berturut-turut juga dimuat tiga berita,
yaitu dua berita rencana arak-arakan dan
satu berita pertemuan di Purwokerto, tetapi tanpa menyebutkan tanggal peristiwa
itu.
Dua berita pertama
diperkirakan merupakan keputusan BPKKP/BKR sekitar hari Minggu tanggal 2
September, karena tidak menyebut sumber berita dan tanggal statement,
tokoh-tokoh BPKKP/BKR adalah tokoh-tokoh agama, dan lazimnya baru dimuat 4 hari
kemudian dalam harian Tjahaja Kamis tanggal 6 September 2605. Berita
tersebut berjudul Arak-arakan dan Oentoek Hari Lebaran. Berita
dari Purwokerto biasanya baru dimuat 4 hari kemudian dalam koran yang terbit di
Bandung, pembentukan BKR Kedu Sabtu 25
Agustus dimuat 29 Agustus, KNI Selasa 28
Agustus dimuat Sabtu tanggal 1 September. Inti berita tersebut arak-arakan yang
diselenggarakan setelah shalat Id hari Sabtu 8 September (dalam koran keliru
Sabtu 9 September). Acara ini digabungkan dengan salat Id agar massa gampang
dikumpulkan dan digiring mengadakan arak-arakan, di samping itu memudahkan
prosedur perijinan, karena Pemerintah Dai Nippon masih utuh dan berkuasa dan tidak
mudah memberikan ijin.
Berita ketiga tentang
pertemuan BPKKP/BKR tanpa menyebut tempat dan tanggal, dimuat harian Tjahaja
Senin 10 September 2605. Hari Sabtu
8 Agustus libur Id Fitri, jadi paling dini pertemuan BPKKP/BKR diselenggarakan
hari Selasa 4 September.
Kemungkinan menunggu kedatangan Mr.Iskak dari Jakarta yang paling cepat
baru tiba Senin 3 September.
Tanggal 5 September 1945
Residen Banyumas Mr.Iskak baru mengumumkan Proklamasi dalam Sidang KNI
Karesidenan yang dilaksanakan di Kabupaten Banyumas, karena Pemerintah Dai
Nippon masih berkuasa. Pemerintah Jepang memang tidak
melarang pengumuman itu, tetapi melarang pengumpulan masa.