Pada tahun 1935 para keluarga trah Raden Ngabei Dipayuda seda Jenar
mendapat kiriman booklet 16,5 x 9,5 cm berwarna cokelat muda yang berjudul
dalam bahasa Melayu pada waktu itu dengan judul yang cukup panjang Statuten
Familiebond Ngeksi Dipo Toenggal berdiri moelai 8 December 1935 di kota
Poerbalingga setebal 8 halaman dan dicetak oleh Drukkerij Sinar Asia,
Gondomanan Dk.. Bahasa yang digunakan campuran Melayu dan Belanda, belum ada
bahasa Indonesia. Singkatnya dalam bahasa Indonesia sekarang adalah Anggaran
Rumah Tangga Paguyuban Persatuan Keluarga Raden Ngabei Dipayuda seda Jenar.
Dalam Fatsal 2 disebutkan
Tujuannya: Perkumpulan in bermasud akan memulyakan leluhurnya lid-lid denga
jalan mengadakan fonds.
Dalam Fatsal 10 sebagai
Beschermheer (Pelindung) ditetapkan Raden Adipati Aria Soemitra Kalapaking
Poerbanegara, pada waktu itu Bpati Banjarnegara 1927-1949; pensiun di
Yogyakarta dengan pangkat Gubernur, sebagai Kepala Balai Penyelidikan
Wafat di Yogyakarta dimakamkan di Pesarean Purbayasa,
Banjarnegara.
Dalam Fatsal 4 Statuten terdapat susunan 9 orang Hoofdbestuur
(bahasa Indonesia: Pengurus):
(1) R.bei
Joedasoebrata, Voorzitter (Ketua)
Beliau adalah Patih
Banjarnegara 1920-1925 di Jalan Yosodarmo 25 Purwokerto, wafat dalam usia 95
tahun, dimakamkan di Pesarean kalibogoir Purwokerto. Kini diwarisi para cucunya.
(2) R.Soeldiman,
Vice-Voorzitter (Wakil Ketua)
Pada waktu itu
Schoolopziener (Penilik Sekolah) Adjibarang, pensiun di Karangjengkol
Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Banjarmulya Purwokerto .
(3) R.Adiman
Wirjakoesoema, 1e Secretaris
Pada waktu itu
Schoolopziener Purbalingga; terakhir pensiun sebagai Kepala Inspeksi Sekolah
Rakyat Kabupaten Tegal di Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di
Pesarean Banjarmulya Purwokerto
(4) R.Soesila, 2e Secretaris
Komis Detasemen Polisi Purbalingga, pensiun di
Bandung ..
(5) R.S.P.Soemawisasra,
1e Penningmeester (Penulis 1)
Pada waktu itu Asisten-wedana Kebasen, pensiun di Pasar
Pon Purwokerto.
(6). R.Moehamad, 2e Penningmeester.
Pada waktu itu pensiun Beherder Pajak Tanah Magetamn, di
Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Kalibogor Purwokerto.
(7) R.P.Bratasoehendra, Commissaris
Pada waktu itu Wedana Bukateja; pensiun di Purwokerto,
dimakamkan di Pesarean Kalibogor Purwokerto
(8) R.Wirjadarsana, Commissaris
Mantri Guru di Purbalingga, pesniun dan wafat di
Balapulang Slawi Tegal.
(9) Kasman, Commissaris
Pada waktu itu Schoolopziener Banyumas 1935-1946, pensiun
dengan nama R.Kasman Soerawidjaja, Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten
Banyumas di Purwokerto (1946-1954), pensiun di Jalan Yosodarmo 21 Purwokerto,
wafat tahun 1963 (70 tahun) dimakamkan di Pesarean Cikebrok Purwokerto.
Alkmarhum adalah ayah Soedarmadji, penulis naskah ini.
Silsilah daripada para pengurus dapat dilihat pada
halaman berikut.
Riwayat singkat
Dipayuda
Disebut Dipayuda dengan keterangan seda Jenar (dalam
bahasa Indonesia: wafat di Jenar), karena terdapat beberapa kepala
daerah Purbalingga yang menggunakan nama Dipayuda, tetapi tidak berasal dari
satu trah. Jenar kini menjadi nama kecamatan dalam Kabupaten Purworejo.
Di sini disebut kepala daerah karena sebetulnya istilah
bupati sebagai pejabat kepala daerah, baru digunakan dalam masa pemerintahan
jajahan Belanda yang dinamakan Pemerintahan Hindia-Belanda. Banyumas dijajah
langsung oleh Belanda (1830), sebagai terjemahan bahasa Belanda Regent, yang
dikutip dari Negeri Belanda. Dalam babad-babad yang disusun sebelum masa
Pemerintahan Hindia-Belanda. Misalnya dalam Babad Tanah Jawi, para kepala
daerah hanya disebut dengan gelarnya (ngabei atau mantri, tumenggung dan
adipati), dan dari gelar tersebut dapat diketahui eselon (tingkatan atau
derajat) kepala daerah tersebut. Tetapi oleh para penulis Babad Banyumas yang
kebanyakan terbit setelah tahun 1830, semua kepala daerah Banyumas disebut
secara umum sebagai bupati
Kebiasaan pemberian nama para pejabat pada masyarakat
tradisional, biasanya nama-namanya berubah disesuaikan pada jabatannya. Berbeda
dengan masa kini, nama yang sama (dalam bahasa Jawa nunggak semi; dalam
bahasa Latin nomonym), pada awalnya digunakan untuk nama pejabat di
tempat yang sama, walaupun dari keturunan yang berbeda, misalnya bupati
Purbalingga sering digunakan nama Dipayuda, kadang-kadang hanya dibedakan
dengan nomor yang belum tentu seragam pada semua penulis, atau diberi
keterangan tambahan, seperti Dipayuda seda Jenar, Dipayuda seda Bandha. Oleh
karena tiap trah yang berkuasa tidak hanya menduduki jabatan kepala daerah lebih
satu kali, orang mengira bahwa nama tersebut adalah nama keluarga, seperti
kecenderungan masa kini, bahwa nama anak mengikuti nama tua leluhurnya (nunggak
semi). .
Hal ini memberikan kesan bahwa pejabat tersebut memang
orang yang tepat menjadi penggantinya walaupun bukan keturunan pejabat
sebelumnya. Secara akademis dapat dikatakan bahwa digunakan sebagai.alat
legimitasi untuk memperkuat kedudukannya.
Pernah terjadi anggapan dari seorang anggota trah
Arungbinang yang namanya digunakan sebagai Bupati Kebumen sampai 8 kali adalah
trah yang paling stabil kedudukannya. Padahal sebetulnya tidak demikian, dari
Arsip Nasional dapat diketahui ada seorang bupati Kebumen yang bukan trah
Arungbinang yang bukan trah tetapi menjadi menantu trah, yang mengajukan usul kepada
pemerintah Hindia Belanda agar diganti namanya menjadi Arungbinang, usul
tersebut dikabulkan. Sesetulnya ada dua trah yang bernama Arungbinang dengan
nomor yang sama sebagai Bupati Kebumen dan sebagai seorang pejabat Istana
kerajaan Surakarta, sehingga dalam majalah Arungbinang timbul perdebatanb yang
bertele-tele, apalagi banyak dari mereka baru mempelajari silsilah. Lagipula
orang mengira bahwa Arungbinang yang bergelar sama tumenggung atau adipati
adalah bupati Kebumen. Padahal Arungbinang I tempat kedudukan sebagai Wadana
Siti Sewu yang menguasai bengkok (apanase) para pejabat di daerah Kebumen
sekarang, rumah dinasnya di ibukota karena merangkap sebagai nayaka atau
menteri. Hanya dalam waktu perang mereka harus memimpin pasukan yang beroperasi
di daerah asalnya.
Dalam Perang Mangkubumen (1746-1755), terjadi
pemberontakan adik raja Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan HB I) terhadap kakak
Susuhunan Pakubuwana II (1726-1749) dan selanjutnya putera Pakubuwana III
(1749-1788), yang dibantu Kumpeni Belanda. Dalam perang tersebut, di Banyumas
terjadi penggantian kepala daerah dengan jabatan Wadana Mancanegara Kulon
(kurang lebih seluas Karesidenan
Banyumas), dengan nama Tumenggung Yudanegara III. Sesudah menduduki
jabatannya Yudanegara menetapkan adiknya Bagus Demang sebagai kepala daerah
Pamerden (menggantikan Onje?) yang berkedudukan di desa Karanglewas, dengan
nama dan gelar yang sama dengan yang nama kepala daerah Onje yang digantikan.
Para penulis dan keturunannya sebagai
Dipayuda I, bukan Dipayuda II.
Ketika pada tahun 1751, Pemberontak Pangeran Mangkubumi
terus-menerus mengepung benteng Ungaran (kini: Kecamatan Kutowinangun, Kab.
Purworejo), maka daerah Mancanegara Kulon diminta bantuannya. Dari
Mancanegara Kulon dikirium dia pasukan yang dipimpin kedua adik tumenggung,
yaitu Ngabei Mertawijaya, Ngabei Roma 9kini: Gombong) dan Ngabei Dipayuda
Pamerden. Ngabei tersebut berpakaian Kumpeni yang berwarna ungu. Tetapi memang
Pangeran Mangkubumi bukan lawan tandingnya,
karena ia sudah tahunan mengadakan expedisi berkuda keliling Jawa tengah dan
Timur, Pada tanggal 2 Desember 1751, pasukan Mancanegara dan pasukan Belanda
yang membantunya kira-kira sebanyak 500 orang dibabat habis di dalam
pertempuran Jenar, korbannya selain Ngabei Dipayuda dalam usia 28 th, juga
kedua kapten, komandan pasukan Belanda. Jenazahnya ditinggalkan di medan
tempur.
Tumenggung Yudanegara III kemudian memerintahkan tiga
orang demang yang selamat untuk mencari adiknya dengan ciri-ciri yang gingsul.
Yang berhasil menemukan adalah slah seorang demang tersebut, ialah Demang
Arsantaka, Demang Pagendholan [kini dekat Sigaluh]. Jenazah kemudian di
makamkan di Dawuhan, tetapi dalam papan nama terdapat salah tafsir, dengan
huruf Jawa tertulis R.Tuemnggung Dipayuda sebagai Bupati Purbalingga I.
Sebagai balas jasa Demang Arsantaka dinikahkan 2 kali
dengan saudara Tumenggung dari ibu isteri selir, tetapi tidak menghasilkan
putera lelaki. Di samping itu putera Demang tesrsebut diangkat sebagai Patih
(Sekretaris) kepala daerah yang dijabat oleh putera tumanggung (keponakan)
sebagai Ngabei Dipayuda II Seda Bandha. Ketika Dipayuda II wafat, yang
menggantikan adalah putera Demang Arsantaka, dengan gelar Dipayuda III
Kepala Daerah Ngabei Dhipakusuma I kemudian hari, tahun
1792, memindahkan tempat kedudukannya dari Karanglewas ke desa baru yang diberi
nama Prabalingga (bukan Purbalingga), nama daerah diganti dengan nama yang sama
Prabalingga. Ketika Ngabehi pada tahun 1803 diberhentikan dan pindah ke
Mangkunegaran Surakarta, Prabalingga dibagi 2, sebagian daerah untuk
mengembalikan cucu Dipayuda I yang memilih nama Dipayuda juga (kelak Ngabei
Ayah di Adireja, terakhir sebagai Bupati Banjarnegara I 1831-1846), anggota
trahnya menyebutnya Dipayuda IV Dan sebagian daerah dialokasikan kepada putera
Tumenggung Yudanegara V 1786-1816) yang bernama Yudakusuma
Ketika Banyumas menjadi jajahan Belanda 1831 nama
Prabalingga diabadikan dengan nama baru Kabupaten Purbalingga dengan Bupati
Pertama R.Adipati Dipakusuma (II), putera Ngabei Dhipakusuma I yang masih hidup
dan kembali ke Prabalingga. Menurut laporan residen telah berganti nama sebagai
Ngabei Dipayuda juga. Tokoh ini tidak lagi populer dan tidak pernah dijumpai
dalam babad. Dalam majalah Bale Poestaka gelarnya disebut Raden Adipati
Tumenggung yang sebetulnya tidak ada gelar demikian dan juga dianggap Bupati
Purbalingga I. .
Catan ini berasal dari sumber-sumber Arsip Nasional RI
dan babad-babad peninggalan para leluhur yang arsipnya terdapat rumah penlis
Jalan Yosodarmo 21 Purwokerto.
Akhirnya dibuat
panitya Pemugaran Makam Komplek Pesarean Yudanegara II yang pertama pada
tanggal 1 April 1940 dengan Ketua Bapak R.HARDJOSUBROTOI, Wedana Gombong
pensiun di Banyumas dan Sekretris, R.Kasman Soerawidjaja, ayah dari
dr.Soedarmadji
Tahun 1995 atas prakarsa Prof.Soemitro Djojohadikoesoemo
untuk kedu kali komplek tersebut direhabilitir.