Selasa, 21 Mei 2013

FAMILEBOND "NGEKSI DIPO TOENGGAL'


Pada tahun 1935 para keluarga trah Raden Ngabei Dipayuda seda Jenar mendapat kiriman booklet 16,5 x 9,5 cm berwarna cokelat muda yang berjudul dalam bahasa Melayu pada waktu itu dengan judul yang cukup panjang Statuten Familiebond Ngeksi Dipo Toenggal berdiri moelai 8 December 1935 di kota Poerbalingga setebal 8 halaman dan dicetak oleh Drukkerij Sinar Asia, Gondomanan Dk.. Bahasa yang digunakan campuran Melayu dan Belanda, belum ada bahasa Indonesia. Singkatnya dalam bahasa Indonesia sekarang adalah Anggaran Rumah Tangga Paguyuban Persatuan Keluarga Raden Ngabei Dipayuda seda Jenar.
            Dalam Fatsal 2 disebutkan Tujuannya: Perkumpulan in bermasud akan memulyakan leluhurnya lid-lid denga jalan mengadakan fonds.
            Dalam Fatsal 10 sebagai Beschermheer (Pelindung) ditetapkan Raden Adipati Aria Soemitra Kalapaking Poerbanegara, pada waktu itu Bpati Banjarnegara 1927-1949; pensiun di Yogyakarta dengan pangkat Gubernur, sebagai Kepala Balai Penyelidikan
Wafat di Yogyakarta dimakamkan di Pesarean Purbayasa, Banjarnegara. 
Dalam Fatsal 4 Statuten terdapat susunan 9 orang Hoofdbestuur (bahasa Indonesia: Pengurus):
            (1) R.bei Joedasoebrata, Voorzitter (Ketua)
            Beliau adalah Patih Banjarnegara 1920-1925 di Jalan Yosodarmo 25 Purwokerto, wafat dalam usia 95 tahun, dimakamkan di Pesarean kalibogoir Purwokerto. Kini diwarisi para cucunya.
            (2) R.Soeldiman, Vice-Voorzitter (Wakil Ketua)
            Pada waktu itu Schoolopziener (Penilik Sekolah) Adjibarang, pensiun di Karangjengkol Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Banjarmulya Purwokerto .
            (3) R.Adiman Wirjakoesoema, 1e Secretaris
            Pada waktu itu Schoolopziener Purbalingga; terakhir pensiun sebagai Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten Tegal di Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Banjarmulya Purwokerto
(4) R.Soesila, 2e Secretaris
Komis Detasemen Polisi Purbalingga, pensiun di Bandung  ..
            (5) R.S.P.Soemawisasra, 1e Penningmeester (Penulis 1)
Pada waktu itu Asisten-wedana Kebasen, pensiun di Pasar Pon Purwokerto.
(6). R.Moehamad, 2e Penningmeester.
Pada waktu itu pensiun Beherder Pajak Tanah Magetamn, di Purwokerto, wafat di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Kalibogor Purwokerto.
(7) R.P.Bratasoehendra, Commissaris
Pada waktu itu Wedana Bukateja; pensiun di Purwokerto, dimakamkan di Pesarean Kalibogor Purwokerto
(8) R.Wirjadarsana, Commissaris
Mantri Guru di Purbalingga, pesniun dan wafat di Balapulang Slawi Tegal.
(9) Kasman, Commissaris
Pada waktu itu Schoolopziener Banyumas 1935-1946, pensiun dengan nama R.Kasman Soerawidjaja, Kepala Inspeksi Sekolah Rakyat Kabupaten Banyumas di Purwokerto (1946-1954), pensiun di Jalan Yosodarmo 21 Purwokerto, wafat tahun 1963 (70 tahun) dimakamkan di Pesarean Cikebrok Purwokerto. Alkmarhum adalah ayah Soedarmadji, penulis naskah ini.
Silsilah daripada para pengurus dapat dilihat pada halaman berikut.
       
            Riwayat singkat Dipayuda
Disebut Dipayuda dengan keterangan seda Jenar (dalam bahasa Indonesia: wafat di Jenar), karena terdapat beberapa kepala daerah Purbalingga yang menggunakan nama Dipayuda, tetapi tidak berasal dari satu trah. Jenar kini menjadi nama kecamatan dalam Kabupaten Purworejo.
Di sini disebut kepala daerah karena sebetulnya istilah bupati sebagai pejabat kepala daerah, baru digunakan dalam masa pemerintahan jajahan Belanda yang dinamakan Pemerintahan Hindia-Belanda. Banyumas dijajah langsung oleh Belanda (1830), sebagai terjemahan bahasa Belanda Regent, yang dikutip dari Negeri Belanda. Dalam babad-babad yang disusun sebelum masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Misalnya dalam Babad Tanah Jawi, para kepala daerah hanya disebut dengan gelarnya (ngabei atau mantri, tumenggung dan adipati), dan dari gelar tersebut dapat diketahui eselon (tingkatan atau derajat) kepala daerah tersebut. Tetapi oleh para penulis Babad Banyumas yang kebanyakan terbit setelah tahun 1830, semua kepala daerah Banyumas disebut secara umum sebagai bupati
Kebiasaan pemberian nama para pejabat pada masyarakat tradisional, biasanya nama-namanya berubah disesuaikan pada jabatannya. Berbeda dengan masa kini, nama yang sama (dalam bahasa Jawa nunggak semi; dalam bahasa Latin nomonym), pada awalnya digunakan untuk nama pejabat di tempat yang sama, walaupun dari keturunan yang berbeda, misalnya bupati Purbalingga sering digunakan nama Dipayuda, kadang-kadang hanya dibedakan dengan nomor yang belum tentu seragam pada semua penulis, atau diberi keterangan tambahan, seperti Dipayuda seda Jenar, Dipayuda seda Bandha. Oleh karena tiap trah yang berkuasa tidak hanya menduduki jabatan kepala daerah lebih satu kali, orang mengira bahwa nama tersebut adalah nama keluarga, seperti kecenderungan masa kini, bahwa nama anak mengikuti nama tua leluhurnya (nunggak semi). .  
Hal ini memberikan kesan bahwa pejabat tersebut memang orang yang tepat menjadi penggantinya walaupun bukan keturunan pejabat sebelumnya. Secara akademis dapat dikatakan bahwa digunakan sebagai.alat legimitasi untuk memperkuat kedudukannya.
Pernah terjadi anggapan dari seorang anggota trah Arungbinang yang namanya digunakan sebagai Bupati Kebumen sampai 8 kali adalah trah yang paling stabil kedudukannya. Padahal sebetulnya tidak demikian, dari Arsip Nasional dapat diketahui ada seorang bupati Kebumen yang bukan trah Arungbinang yang bukan trah tetapi menjadi menantu trah, yang mengajukan usul kepada pemerintah Hindia Belanda agar diganti namanya menjadi Arungbinang, usul tersebut dikabulkan. Sesetulnya ada dua trah yang bernama Arungbinang dengan nomor yang sama sebagai Bupati Kebumen dan sebagai seorang pejabat Istana kerajaan Surakarta, sehingga dalam majalah Arungbinang timbul perdebatanb yang bertele-tele, apalagi banyak dari mereka baru mempelajari silsilah. Lagipula orang mengira bahwa Arungbinang yang bergelar sama tumenggung atau adipati adalah bupati Kebumen. Padahal Arungbinang I tempat kedudukan sebagai Wadana Siti Sewu yang menguasai bengkok (apanase) para pejabat di daerah Kebumen sekarang, rumah dinasnya di ibukota karena merangkap sebagai nayaka atau menteri. Hanya dalam waktu perang mereka harus memimpin pasukan yang beroperasi di daerah asalnya.      
Dalam Perang Mangkubumen (1746-1755), terjadi pemberontakan adik raja Pangeran Mangkubumi (kelak Sultan HB I) terhadap kakak Susuhunan Pakubuwana II (1726-1749) dan selanjutnya putera Pakubuwana III (1749-1788), yang dibantu Kumpeni Belanda. Dalam perang tersebut, di Banyumas terjadi penggantian kepala daerah dengan jabatan Wadana Mancanegara Kulon (kurang lebih seluas Karesidenan  Banyumas), dengan nama Tumenggung Yudanegara III. Sesudah menduduki jabatannya Yudanegara menetapkan adiknya Bagus Demang sebagai kepala daerah Pamerden (menggantikan Onje?) yang berkedudukan di desa Karanglewas, dengan nama dan gelar yang sama dengan yang nama kepala daerah Onje yang digantikan. Para penulis dan keturunannya  sebagai Dipayuda I, bukan Dipayuda II.  
Ketika pada tahun 1751, Pemberontak Pangeran Mangkubumi terus-menerus mengepung benteng Ungaran (kini: Kecamatan Kutowinangun, Kab. Purworejo), maka daerah Mancanegara Kulon diminta bantuannya. Dari Mancanegara Kulon dikirium dia pasukan yang dipimpin kedua adik tumenggung, yaitu Ngabei Mertawijaya, Ngabei Roma 9kini: Gombong) dan Ngabei Dipayuda Pamerden. Ngabei tersebut berpakaian Kumpeni yang berwarna ungu. Tetapi memang Pangeran Mangkubumi bukan  lawan tandingnya, karena ia sudah tahunan mengadakan expedisi berkuda keliling Jawa tengah dan Timur, Pada tanggal 2 Desember 1751, pasukan Mancanegara dan pasukan Belanda yang membantunya kira-kira sebanyak 500 orang dibabat habis di dalam pertempuran Jenar, korbannya selain Ngabei Dipayuda dalam usia 28 th, juga kedua kapten, komandan pasukan Belanda. Jenazahnya ditinggalkan di medan tempur.
Tumenggung Yudanegara III kemudian memerintahkan tiga orang demang yang selamat untuk mencari adiknya dengan ciri-ciri yang gingsul. Yang berhasil menemukan adalah slah seorang demang tersebut, ialah Demang Arsantaka, Demang Pagendholan [kini dekat Sigaluh]. Jenazah kemudian di makamkan di Dawuhan, tetapi dalam papan nama terdapat salah tafsir, dengan huruf Jawa tertulis R.Tuemnggung Dipayuda sebagai Bupati Purbalingga I.
Sebagai balas jasa Demang Arsantaka dinikahkan 2 kali dengan saudara Tumenggung dari ibu isteri selir, tetapi tidak menghasilkan putera lelaki. Di samping itu putera Demang tesrsebut diangkat sebagai Patih (Sekretaris) kepala daerah yang dijabat oleh putera tumanggung (keponakan) sebagai Ngabei Dipayuda II Seda Bandha. Ketika Dipayuda II wafat, yang menggantikan adalah putera Demang Arsantaka, dengan gelar Dipayuda III
Kepala Daerah Ngabei Dhipakusuma I kemudian hari, tahun 1792, memindahkan tempat kedudukannya dari Karanglewas ke desa baru yang diberi nama Prabalingga (bukan Purbalingga), nama daerah diganti dengan nama yang sama Prabalingga. Ketika Ngabehi pada tahun 1803 diberhentikan dan pindah ke Mangkunegaran Surakarta, Prabalingga dibagi 2, sebagian daerah untuk mengembalikan cucu Dipayuda I yang memilih nama Dipayuda juga (kelak Ngabei Ayah di Adireja, terakhir sebagai Bupati Banjarnegara I 1831-1846), anggota trahnya menyebutnya Dipayuda IV Dan sebagian daerah dialokasikan kepada putera Tumenggung Yudanegara V 1786-1816) yang bernama Yudakusuma 
Ketika Banyumas menjadi jajahan Belanda 1831 nama Prabalingga diabadikan dengan nama baru Kabupaten Purbalingga dengan Bupati Pertama R.Adipati Dipakusuma (II), putera Ngabei Dhipakusuma I yang masih hidup dan kembali ke Prabalingga. Menurut laporan residen telah berganti nama sebagai Ngabei Dipayuda juga. Tokoh ini tidak lagi populer dan tidak pernah dijumpai dalam babad. Dalam majalah Bale Poestaka gelarnya disebut Raden Adipati Tumenggung yang sebetulnya tidak ada gelar demikian dan juga dianggap Bupati Purbalingga I.   .
Catan ini berasal dari sumber-sumber Arsip Nasional RI dan babad-babad peninggalan para leluhur yang arsipnya terdapat rumah penlis Jalan Yosodarmo 21 Purwokerto.
 Akhirnya dibuat panitya Pemugaran Makam Komplek Pesarean Yudanegara II yang pertama pada tanggal 1 April 1940 dengan Ketua Bapak R.HARDJOSUBROTOI, Wedana Gombong pensiun di Banyumas dan Sekretris, R.Kasman Soerawidjaja, ayah dari dr.Soedarmadji
Tahun 1995 atas prakarsa Prof.Soemitro Djojohadikoesoemo untuk kedu kali komplek tersebut direhabilitir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar